Kicau burung terdengar riuh dipagi hari itu, menambah semarak suasana padukuhan yang berada berdekatan dengan lereng gunung lawu sisi timur tersebut. Pertanda kehidupan mulai terasa semakin teratur dengan hiruk pikuk penghuninya yang tidak terlalu banyak itu, yang dipimpin oleh seorang sepuh dan juga bijaksana sehingga dihormati oleh para penghuni lainnya. Orang tersebut sering dipanggil ki Ageng Mageti. Di padukuhan tersebut, ki Ageng Mageti dibantu salah satu orang kepercayaannya, yaitu ki Buyut Suro yang juga dikenal dengan ki Ageng Getas dalam menata padukuhan yang dinamai padukuhan Gandong Kidul.
Sementara itu, disebuah pategalan terlihat dua orang. Keduanya ialah seorang pemuda dan orang paruh baya.
"Ayah, lihat.." seru seorang pemuda seraya menunjuk sesuatu dekat gerumbul.
Orang yang dipanggil ayah itu menoleh dan mengikuti arah jari telunjuk anaknya.
"Anak panah... " desis orang yang dipanggil ayah, seraya berlari kecil menghampiri anak panah yang teronggok dekat gerumbul.
"Aneh sekali, Kenongo." Kembali orang yang dipanggil ayah itu berkata, "Penghuni padukuhan tiada satupun yang menggunakan piranti berburu seperti ini. Dan tidak pernah selama ini telatah Gondang Kidul ada orang luar yang memasukinya."
Pemuda yang bernama Kenongo itu mengangguk mengiyakan, " Benar ayah, sebaiknya kita laporkan kepada paman Ageng Getas saja."
Orang yang dipanggil ayah oleh Kenongo itu mengangguk, "Iya ngger."
Maka keduanya bergegas meninggalkan pategalan dimana keduanya menemukan anak panah dan membawanya untuk dilaporkan kepada ki Buyut Suro atau ki Ageng Getas.
Setelah berjalan beberapa lama, kedua orang tadi sampai disebuah bangunan sederhana, dan keduanya langsung menyapa sang pemilik bangunan.
"Oh... Adi Sempulur dan kau Kenongo." Seorang lelaki tua berambut putih menyambut hangat tamu sekaligus masih mempunyai hubungan saudara.
"Iya, kakang Ageng Getas." Sahut ki Sempulur.
"Bukankah kau dan Kenongo akan menebang kayu Jati dekat kali Gandong itu, adi ?" Tanya ki Buyut Suro.
"Benar, kakang. Namun pekerjaan itu aku urungkan karena ada sesuatu hal yang harus aku laporkan kepada kakang." Jawab ki Sempulur.
Ki Buyut Suro mengernyitkan alisnya, "Apa itu adi ?"
Tak menunda - nunda waktu, ki Sempulur mengambil anak panah dari balik bungkusan kain.
"Ini, kakang. Kenongo-lah yang awalnya mengetahuinya." Kata ki Sempulur dan menceritakan semuanya.
Ki Buyut Suro atau ki Ageng Getas mendengarkan dengan seksama.
"Hmmm.... Baiklah, adi Sempulur dan kau Kenongo, untuk sementara kau jangan menceritakan kejadian ini kepada penghuni yang lain. Biar aku beritahukan terlebih dahulu kepada ki Ageng Mageti." Kata ki Buyut Suro
"Baik kakang." jawab ki Sempulur.
#####
Ki Ageng Mageti menghela napas sesaat setelah mendengarkan cerita dari ki Buyut Suro. Orang tua itu seakan mempunyai pranggaita akan adanya sesuatu yang ikut menyeret dirinya. Namun walau begitu ia cukup tenang dan berusaha melewati kejadian yang akan datang itu.
"Mungkin ini sudah suratan Yang Maha Agung, ki Buyut Suro." Desis ki Ageng Mageti, dan lanjutnya, "Bila diteliti dengan cermat, anak panah ini berasal dari pulau Madura."
Tangan ki Ageng Mageti meraba bagian tengah anak panah, "Tak salah lagi, pasukan anakmas Trunojoyo menggunakan anak panah ini."
Mendengar uraian dari ki Ageng Mageti, ki Buyut mengangguk - angukan kepalanya, meskipun ia hanya sekilas mendengar orang yang disebut tadi, yaitu Trunojoyo. Seseorang dari telatah Madura yang saat ini mengadakan pergerakan tegas terhadap Gusti Amangkurat yang bersahabat akrab dengan orang - orang asing bermata biru di Jayakarta.
"Lalu, hendaknya apa yang kita lakukan ki Ageng Mageti ?" Tanya ki Buyut Suro.
"Bila mereka datang baik - baik, tiada salahnya kita terima dengan baik juga. Namun bila mereka melenceng dari pugeran, tentu kita wajib mengingatkan dengan segenap daya kita." Kata ki Ageng Mageti.
Dan begitulah, untuk saat ini ki Ageng Mageti hanya menganjurkan kepada orang kepercayaannya itu untuk melakukan tindakan sewajarnya saja, namun begitu tentunya sikap hati - hati juga diterapkan dalam menghadapi sesuatu yang akan terjadi.
#####
Sementara itu, tak jauh dari pedukuhan Gandong Kidul, seorang pemuda duduk menyandarkan tubuhnya dibawah pohon Randu alas. Terlihat pemuda itu meringis menahan sakit dilengan tangan kirinya. Bercak darah terlihat merembes menembus kain pengikat yang dililitkan dilengan tangannya.
"Hampir saja nyawaku melayang akibat begundal Mataram." Desis pemuda itu.
Rupanya pemuda itu salah seorang pengikut pasukan Trunojoyo, walau sebenarnya itupun hanya ia sendiri memutuskan untuk ikut iringan pasukan yang melewati tempat tinggalnya. Di tempat tinggalnya, pemuda itu sering dipanggil Seta, anak seorang pedagang kecil di kadipaten Surabaya. Orang tuanya telah meninggal dibunuh utusan Mataram tatkala adanya kemelut di Kadipaten Surabaya. Oleh karenanya mendengar adanya pasukan Trunojoyo menuju Mataram, Seta ikut serta demi membalas kematian orang tuannya. Namun sangat disayangkan, ia dan beberapa laskar Trunojoyo kesasar setelah mundur dari palagan dan terdampar di timur gunung Lawu dekat padukuhan Gandong Kidul. Tak hanya itu saja, mereka-pun dikejar oleh prajurit Mataram dan hingga suatu kali terjadilah pertempuran.
Sangatlah beruntung bagi Seta, dirinya yang mempunyai bekal sedikit dalam olah kanuragan ternyata berbakat dalam menggunakan anak panah. Maka tatkala terjadi perkelahian, pemuda itu mampu membuat lawan - lawannya tumbang tertancap anak panah yang ia lontarkan melalui busurnya. Walau begitu ia juga tidak luput oleh luka sayatan dilengannya dan membuat dirinya mandi peluh akibat menahan rasa sakit.
Cukup lama tubuh muda itu bersandarkan pohon Randu alas. Tak terasa sang surya semakin menukik lebih jauh ke barat, menandakan hari akan memasuki senja. Tak lama kemudian, Seta membuka matanya yang sebelumnya tertutup karena tertidur. Sesekali dari bibirnya mendesis rasa sakit atas luka yang ia derita. Dilihatnya sesaat luka itu, lalu ia bangkit berdiri beranjak dari tempat itu dan pergi ke arah aliran sungai.
Kaki pemuda itu perlahan bergerak menyusuri tanggul untuk mencari tanah yang landai mendekati pinggiran kali Gandong. Sesampainya dipinggiran, pemuda itu meraup air dengan kedua tangannya dan meneguk air tersebut. Dua.. tiga.. teguk air kali Gandong yang bening mulai membasahi tenggorokan pemuda itu. Rasa segarnya air membuat tubuhnya semakin ringan, dan tenaganya pulih.
Usai terpuaskan rasa dahaga serta membersihkan badannya, Seta beranjak meninggalkan tepian kali. Kakinya perlahan mengarah ke barat searah hilir kali Gandong. Sesampainya di bawah gumuk, sesaat pemuda itu menghentikan langkah kakinya, tiada lain karena matanya melihat ada seseorang berdiri di atas gumuk menghadap ke arah lain. Rasa berdebar tanpa terasa mulai menyelimuti dada Seta.
"Ngger.... Siapa kau ini ?" Seru orang di atas gumuk tanpa memandang Seta.
Mulut Seta masih terdiam belum ada tanda - tanda menyahuti seruan itu. Karenanya sekali lagi orang yang diatas gumuk berseru kembali, namun kali ini ada perbawa yang sangat besar.
"Dari mana asalmu, Ngger ?"
Mendengar seruan yang kedua, tubuh Seta jatuh terduduk dan terasa lemas, seolah - olah otot bayunya terlolosi. Barulah bibir Seta ingin menjawab seruan itu, meskipun sangat sulit dan lirih, "Aaa...ku Se..ta.. da.. da..ri Sura.. ba..baya.."
Orang yang tadinya di atas gumuk membalikan badan dan menuruni gumuk mendekati Seta. Jarak dua langkah dari Seta ia berhenti dan menatap tajam mengawasi tubuh Seta.
"Ia terluka." batin orang itu.
Orang itu meraih tubuh Seta dan dengan entengnya dipanggul dipundaknya lalu tanpa lama - lama dibawa tubuh itu lari memasuki suasana malam.
Sementara itu, entah mengapa Seta tak mampu berontak. Seolah - olah tubuh itu hanyalah seonggok patung tanpa adanya nyawa. Meskipun sebenarnya Seta merasakan betapa tubuhnya dibawa lari kencang bagaikan lesatan anak panah menghujam menembus lapisan udara, hanya mampu terdiam dan hanya merasa terperangah hampir tak masuk dinalarnya. Tentu itu merupakan sebuah pengalaman yang tiada ia duga - duga dalam seumur hidupnya. Tubuhnya bagai terbang melewati puluhan tombak dalam waktu beberapa saat, hingga pada akhirnya tubuhnya direbahkan diatas sebuah dipan di dalam gua.
Orang yang memanggulnya tadi meraih wadah yang berisi potongan pohung dan didekatkan pada Seta.
"Makanlah, Ngger." Kata orang itu, "Agar badanmu cepat pulih."
Sebenarnya perut pemuda itu memanggil - manggil ingin melahap potongan pohung tersebut. Namun kesan dari wajah sang empunya terlihat meragu dan was - was atas kebaikan orang yang belum ia ketahui kebenarannya jati dirinya.
"Hehehe.... Aku mengerti apa yang terbersit dalam hatimu, Ngger." Tiba - tiba orang tua itu bersuara, dan lanjutnya, "Aku bernama Jalak Lawu, penghuni gua Pringgodani ini."
Sejenak orang itu diam demi memperhatikan wajah Seta yang masih ragu. Maka kemudian katanya lebih jauh.
"Tak usah ragu, makanlah. Bila badanmu sudah baikan, olesi luka lenganmu dengan tumbukan daun ini."
Tanpa menunggu jawaban dari Seta, orang tua yang mengaku Jalak Seta itu melangkah keluar dari gua.
######
Sudah tiga hari lamanya Seta bersama ki Jalak Lawu berada di gua Pringgodani yang berada disalah satu bukit gunung Lawu. Hubungan keduanya semakin terbuka satu sama lain, tanpa adanya sekat yang memisahkan. Dengan terus terang Seta memberitahukan kalau dirinya datang ke Mataram untuk membalas kematian ayahnya yang telah dibunuh oleh seorang Tumenggung Mataram. Demikian juga dengan ki Jalak Lawu, ia membeberkan kalau dirinya seorang pertapa yang selama ini berdiam di gua Pringgodani.
"Ngger, Memang sangat sedih hati ini manakala orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita. Entah itu karena meninggal karena sakit, malah - malah meninggal karena dibunuh oleh seseorang." Kata ki Jalak Lawu, " Akan tetapi itu semua sudah menjadi suratan Gusti Agung yang harus kita ikhlaskan."
Seta mendengar nasehat dari orang yang telah menolongnya hanya menunduk saja. Hatinya masih tidak merelakan kematian ayahnya yang tewas didep
an matanya kala itu. Erangan dan rintihan menyayat hatinya begitu kentara tak dapat dilupakan olehnya. Darah menggenang membasahi ubin rumahnya masih jelas dalam ingatannya, disertai tawa congkak Tumenggung Sukradanu.
Dalam pada itu, ki Jalak Seta, orang tua yang sudah berpengalaman diasam pahitnya dunia ini, mengerti dan memahami apa yang dirasakan oleh Seta. Oleh karena orang itu menepuk punda pemuda disampingnya itu seraya berkata sareh.
"Pikirkanlah dengan hati yang bening, Ngger. Tentu seorang Tumenggung bukanlah orang awam yang tidak memiliki bekal kanuragan. Dan jikalau kau mampu menuntut balas, apakah orang tuamu yang sudah dialam kelanggengan, tersenyum bahagia melihat anaknya melakukan tindakan membunuh orang ?"
Sejenak ki Jalak Lawu berhenti seraya memperhatikan raut wajah Seta, dan kemudian setelah dirasa apa yang dikatakan mengena di hati pemuda itu, barulah ujarnya, " Untuk sementara waktu, lupakan persoalan itu. Tinggalah disini bersamaku. Siapa tahu ada sesuatu yang dapat membuatmu tentram dan berguna bagi kehidupanmu kelak, Ngger."
####
Tanpa terasa Seta sudah tiga bulan berada di gua Pringgodani, dan mendapat tuntunan olah kanuragan oleh ki Jalak Lawu. Latihan - latihan kewadagan yang keras dilaluinya tiada henti. Siang malam tempaan demi tempaan terus dilakukan, seolah - olah dirinya sedang digodok di kawah candromuko.
Tubuh Seta semakin berotot, kuat dan kokoh bagai padas gunung. Kakinya lincah saat meloncat dari batu satu ke batu lainnya. Genggaman tangannya begitu kuat saat menumbuk sebuah benda yang dikenainnya. Tandangnya semakin mantab dalam setiap gerak yang ia lakukan.
Selain olah kanuragan, ki Jalak Lawu juga memberikan bekal olah kajiwan untuk mengimbangi ilmj kanuragan yang ia wariskan kepada Seta. Olah kajiwan itu mampu untuk mengekang nafsu ganasnya ilmu kanuragan dan juga mampu memberi dorongan kebaikan dalam setiap tindak tanduk Seta kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar